... MEMBALAS SETIAP KEBENCIAN DENGAN KASIH SAYANG ...
Bismillahi minal Awwali wal akhiri ... Salah
seorang di antara tokoh besar dalam dunia
kesucian adalah orang Mesir yang bernama
Dzunnun. Karena ia berasal dari Mesir,
maka ia dikenal dengan sebutan Dzunnun
Al-Mishri, Dzunnun Si Orang Mesir. Ketika ia masih hidup, orang-orang tidak
mengenalnya sebagai orang yang dekat
dengan Allah. Ia malah lebih banyak dicela
dan dicemooh orang karena dianggap
kafir, ahli bid'ah, dan orang murtad. Ia
tidak pernah membalas semua tuduhan itu dengan kemarahan atau serangan balik. Ia
bahkan menunjukkan dirinya seakan-akan
ia mengakui seluruh celaan itu. Selama ia hidup, orang-orang tidak
mengetahui bahwa Dzunnun adalah salah
seorang di antara waliyullah, kekasih
Allah. Orang mengetahui kedekatannya
dengan Tuhan setelah Dzunnun meninggal
dunia. Menurut Al-Hujwiri, pada malam kematian Dzunnun, tujuh puluh orang
bermimpi melihat Rasulullah saw. Dalam mimpi itu, Nabi bersabda, "Aku
datang menemui Dzunnun, sang wali
Allah." Sesudah kematiannya, konon di
atas keningnya tertulis: Inilah kekasih
Tuhan, yang mati karena mencintai Tuhan,
dan dibunuh oleh Tuhan. Masih menurut Al-Hujwiri, pada saat
penguburan Dzunnun, burung-burung di
angkasa berkumpul di atas kerandanya
sambil mengembangkan sayap mereka
seakan-akan ingin melindungi jenazahnya.
Pada saat itulah orang-orang Mesir menyadari kekeliruan mereka dalam
memperlakukan Dzunnun selama ini. Ada banyak kisah tentang Dzunnun dan
hampir semua kisah hidupnya itu menjadi
pelajaran yang amat berharga. Kisah-kisah
itu menjadi petunjuk bagi kita dalam
mendekati Allah swt. Di antara kisah-kisah
yang dituturkan tentang Dzunnun adalah satu kisah ketika ia berlayar bersama para
santrinya dengan sebuah perahu di atas
sungai Nil. Alkisah, pada suatu hari, berlayarlah
mereka di sungai Nil. Yang sedang
berekreasi di sungai itu bukan hanya
orang-orang saleh seperti Dzunnun dan
para santrinya, tetapi juga orang-orang
yang menggunakan rekreasi sebagai alat untuk melakukan kemaksiatan. Di tengah jalan, bertemulah dua kelompok
perahu yang mempunyai "ideologi" yang
berbeda itu. Pada perahu yang satu,
terdapat Dzunnun, sang kiai, bersama para
santrinya. Mereka melantunkan zikir
kepada Allah swt. Pada perahu yang lain, ada sekelompok anak muda yang memetik
gitar, berhura-hura, berteriak-teriak, dan
berperilaku yang menjengkelkan santri-
santri Dzunnun. Karena para santri percaya bahwa doa-doa
Dzunnun pasti diijabah, mereka meminta
Dzunnun untuk berdoa kepada Allah
supaya perahu anak-anak muda itu
ditenggelamkan Tuhan jauh ke dasar
sungai Nil. Dzunnun lalu mengangkat kedua belah
tangannya dan berdoa: Ya Allah,
sebagaimana Engkau telah memberikan
orang-orang itu kehidupan yang
menyenangkan di dunia ini, beri juga
mereka satu kehidupan yang menyenangkan di akhirat nanti. Santri-santrinya tercengang. Semula
mereka berharap Dzunnun akan
mendoakan anak-anak muda yang ugal-
ugalan itu agar ditenggelamkan Tuhan
karena anak-anak muda itu memandang
kehidupan hanya semata-mata kesenangan saja. Tapi aneh bin ajaib,
Dzunnun hanya berdoa seperti di atas. Para
santri terkejut mendengar doa Dzunnun. Ketika perahu anak-anak muda itu
mendekat, mereka melihat Dzunnun ada di
perahu itu. mereka menyesal dan meminta
maaf. Entah bagaimana, memandang
wajah Dzunnun membawa mereka kepada
kesucian. Mereka meremukkan alat-alat musik mereka dan bertaubat kepada
Tuhan. Waktu itulah Dzunnun memberi pelajaran
kepada para santrinya, "Kehidupan yang
menyenangkan di akhirat nanti adalah
bertaubat di dunia ini. Dengan cara begini,
kalian dan mereka puas tanpa merugikan
siapa pun." Kita tertarik dengan cerita Dzunnun ini.
Kita terbiasa untuk menaruh dendam
kepada orang-orang di sekitar kita.
Seringkali setelah kita menjalani
kehidupan yang baik, kita jengkel kepada
orang-orang yang kita anggap buruk. Ketika ada orang yang memperlakukan
kita dengan jelek, kita berharap bahwa
kita bisa membalas kejelekan itu dengan
kejelekan kita lagi. Untuk itu kita sering
menutup-nutupinya dengan berkata,
"Supaya ini jadi pelajaran bagi mereka." Dzunnun melanjutkan tradisi para rasul
Tuhan yang mengajarkan kepada kita
untuk membalas kejelekan yang dilakukan
orang lain dengan kebaikan. Bayangkanlah
ketika Anda berdoa supaya saingan Anda
hancur, agar musuh Anda binasa, Anda akan memperoleh satu manfaat saja:
Kepuasan hati karena hancurnya saingan
Anda. Tapi ketika Anda berdoa: Ya Allah,
ubahlah kebencian musuh-musuhku
menjadi kasih sayang, Anda akan
mendatangkan manfaat kepada semua orang. Sama seperti doa Dzunnun Al-
Mishri. Dahulu, Nabi Isa as beserta murid-
muridnya lewat di depan rombongan
pemuda yang ugal-ugalan juga. Mereka
bukan saja melakukan tindakan-tindakan
maksiat ketika kelompok Nabi Isa datang,
mereka juga malah melemparkan batu ke arah Nabi Isa. Nabi Isa berhenti dan
memandang mereka untuk kemudian
mendoakan kebaikan bagi mereka. Murid-muridnya bertanya, "Mereka
melempari batu ke arahmu tapi mengapa
engkau malah membalas dengan doa yang
baik?" Nabi Isa menjawab, "Itulah bedanya kita
dengan mereka. Mereka kirimkan kepada
kita keburukan dan kita kirimkan kepada
mereka kebaikan." Rasulullah saw dilempari orang di Thaif
ketika beliau mengajak mereka kepada
Islam sampai kakinya berlumuran darah.
Ketika malaikat datang kepadanya
menawarkan untuk menimpakan gunung
di atas orang-orang yang menyerangnya, Nabi hanya berkata: Ya Allah, berilah
petunjuk kepada kaumku karena mereka
adalah orang-orang yang tidak mengerti. Dzunnun Al-Mishri mengajari kita tradisi
para nabi dan orang-orang saleh;
membalas kejelekan dengan kebaikan.
Jadilah kita seperti pohon Mangga di tepi
jalan, yang dilempari orang dengan batu
tetapi ia mengirimkan kepada si pelempar itu, buah yang telah ranum. Ahsin kamâ
ahsanallâhu ilaik, berbuatlah baik
sebagaimana Allah telah berbuat baik
kepadamu. Di antara perbuatan baik yang sangat
tinggi nilainya adalah membalas
keburukan orang kepada kita dengan
kebaikan. Ini bukanlah suatu hal yang
mustahil, melainkan ini adalah ajaran
kesucian yang akan membawa kita lebih dekat kepada Allah swt. (Dikutip tanpa izin dari bukunya Prof. Dr.
KH: Jalaluddin Rahmat) Wallahua’lam bish Shawwab....
Semoga bermanfaat bagi yang
membacanya ....
.... Segala puji bagi Allah, yang dengan
nikmat-Nya sempurnalah semua
kebaikan .... Barakallahufikum .... Salam Terkasih ..
Dari Sahabat Untuk Sahabat ... ... Semoga tulisan ini dapat membuka
pintu hati kita yang telah lama terkunci ... ~ o ~ Salam santun dan
keep istiqomah ... --- Jika terjadi kesalahan dan kekurangan
disana-sini dalam catatan ini ... Itu
hanyalah dari kami ... dan kepada Allah
SWT., kami mohon ampunan ... ----
No comments:
Post a Comment