waktu dan aku
Ada
sebait kisah menarik dari Imam Sulaim Ar Razi, salah seorang ulama
Syafi’ah yang meninggal tahun 447 H. Seperti yang diceritakan oleh
Muammil bin Hasan bahwa pada suatu hari ia melihat pena Sulaim Ar Razi
rusak dan tumpul, ketika ia memperbaiki penanya tersebut terlihat ia
menggerak-gerakkan mulutnya, setelah diselidiki ternyata di membaca Al
Qur’an di sela-sela memperbaiki penanya, dengan tujuan agar tidak
terbuang begitu saja waktunya dengan sia-sia
Sahabat, masih
segar dalam ingatan kita perkataan Imam Syahid Hasan Al Banna,
“Sesungguhnya kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang tersedia”.
Gunakanlah skala prioritas dalam menentukan suatu aktivitas dimulai dari
yang penting & mendesak, tidak penting tapi mendesak, penting tapi
tidak mendesak, dan tidak penting & tidak mendesak.
Kita
juga tentu mengetahui bahwa Allah pun bersumpah dalam beberapa waktu
yaitu “Demi Dhuha”, Demi Fajar, Demi Subuh, Demi cahaya merah pada waktu
senja, Demi Malam, Demi Siang, dan Demi Masa.” Sumpah Allah yang
berulang kali atas nama waktu menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam
kehidupan manusia.
Sahabat, mari kita mulai kembali untuk
menata waktu-waktu kita yang tercecer begitu banyak untuk hal yang
sia-sia. Semoga kita termasuk hamba-nya yang bisa memaksimalkan waktu
dengan sebaik mungkin untuk sesuatu yang bermanfaat. Aamiin.
No comments:
Post a Comment