Sunday, 9 June 2013

waktu dan aku

Ada sebait kisah menarik dari Imam Sulaim Ar Razi, salah seorang ulama Syafi’ah yang meninggal tahun 447 H. Seperti yang diceritakan oleh Muammil bin Hasan bahwa pada suatu hari ia melihat pena Sulaim Ar Razi rusak dan tumpul, ketika ia memperbaiki penanya tersebut terlihat ia menggerak-gerakkan mulutnya, setelah diselidiki ternyata di membaca Al Qur’an di sela-sela memperbaiki penanya, dengan tujuan agar tidak terbuang begitu saja waktunya dengan sia-sia

Sahabat, masih segar dalam ingatan kita perkataan Imam Syahid Hasan Al Banna, “Sesungguhnya kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang tersedia”. Gunakanlah skala prioritas dalam menentukan suatu aktivitas dimulai dari yang penting & mendesak, tidak penting tapi mendesak, penting tapi tidak mendesak, dan tidak penting & tidak mendesak.

Kita juga tentu mengetahui bahwa Allah pun bersumpah dalam beberapa waktu yaitu “Demi Dhuha”, Demi Fajar, Demi Subuh, Demi cahaya merah pada waktu senja, Demi Malam, Demi Siang, dan Demi Masa.” Sumpah Allah yang berulang kali atas nama waktu menunjukkan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia.

Sahabat, mari kita mulai kembali untuk menata waktu-waktu kita yang tercecer begitu banyak untuk hal yang sia-sia. Semoga kita termasuk hamba-nya yang bisa memaksimalkan waktu dengan sebaik mungkin untuk sesuatu yang bermanfaat. Aamiin.

No comments:

Post a Comment